Senin, 07 Agustus 2017

Serial Aku dan BAQI (Part 2)



AKU DAN BAQI
Prolog
______
Belajar Alquran Intensif (BAQI) merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Beberapa bulan sebelum aku berkuliah di tempat ini aku sudah sempat mendengar namanya lewat jarkom kegiatan UKM tersebut dari seorang kakak tingkatku di sana, Kak Diana. Memasuki dunia perkuliahan, UKM yang menjadi incaran dan pastinya akan aku ikuti tentunya adalah Lembaga Dakwah Kampus Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa (LDK UKDM). Mengapa? Ya, karena aku berasal dari rohani Islam sewaktu SMA. BAQI itu UKM yang sama sekali tak pernah aku impikan dan dambakan sebelumnya. Padahal aku ini tipe orang yang lebih menyukai hal-hal yang menjadi targetanku terlebih dahulu sebelumnya. Namun entah mengapa, kini BAQI menjadi naunganku dalam mempelajari Alquran.
***
 Awal Perkenalan
______________
Hal unik yang ada di kampus UPI ini adalah bahwa setiap mahasiswanya itu harus bisa membaca Alquran. Khususnya bagi mereka yang mengontrak mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) diwajibkan untuk mengikuti tes baca Alquran dari BAQI. Ada berbagai kriteria dalam pengetesan ini dan jika tidak lulus maka harus mengikuti bimbingan baca Alquran yang diselenggarakan juga oleh BAQI.
Sebenarnya, aku bukanlah orang yang buta akan tahsin. Sejak SMA aku sudah berkenalan dengan makhluk yang bernama tahsin ini. Baik itu di sekolah bersama Pak Agus dan teman-teman di Ikatan Siswa-siswi Masjid Al-Mudarrisin (ISSMA) maupun bersama teman-teman di remaja masjid melalui kegiatan ta’limnya serta beberapa kegiatan mentoring. Sekitar tiga tahun aku mempelajari tahsin secara sedikit demi sedikit dari satu orang ke orang lainnya. 
Namun, tatkala seorang kakak kelasku di SMA yang kini satu kampusku menceritakan pengalamannya melalui tes baca Quran tersebut, seketika kekhawatiranku pun menjadi-jadi. 
“Susah banget buat lulusnya. Pokoknya harus diayun-ayun gitu.”  Ujar beliau. 
Dalam hati dengan pedenya aku percaya bahwa aku pasti bisa. Wajar kakak kelasku tersebut belum bisa lulus karena belum pernah belajar sebelumnya. Namun tidak denganku, karena aku telah terlebih dahulu belajar selama tiga tahun sehingga tidak mungkin jika tidak lulus. Tambah beliau pula, 
“Teteh juga udah bimbingan beberapa kali, terus tes, bimbingan lagi, tes lagi dan hasilnya maksimal TT. Susah banget buat dapet TM.”  

Wah, perasaan khwatir pun muncul setelah kakak kelasku mengucapkan hal tersebut. Terlebih kami sering satu angkot saat akan berangkat ke kampus sehingga perjalanan yang cukup panjang dan lama itu kami habiskan untuk membicarakan hal itu lagi.
Suatu hari di Masjid Al-Furqan UPI. Ku lihat papan pengumuman di lantai satu yang bertuliskan “DIKLAT TESTER @LANTAI 3” Tertanda UKM BAQI UPI. Maka, kala itu aku yang sedang penasaran dengan kemampuan membaca Alquran ku pun segera menyambangi lokasi tersebut. Dengan polosnya ku langkahkan kaki menuju lantai tiga masjid kampus yang cukup besar ini. Semakin dekat dan dekat, hatiku pun semakin dag-dig-dug. Bismillah, aku pun memberanikan diri mendekati hijab berwarna hijau tersebut. Tak ku sangka, kedatanganku disambut baik oleh teteh-teteh yang berada di sana. Lalu, ku jelaskan maksud kedatanganku ke tempat tersebut. 
 Teh, maaf di sini bisa belajar tahsin? Ini buat umum?” tanyaku, karena jujur saja aku kira saat itu sedang belajar tahsin, namun ternyata, 
“oh, maaf bukan. Ini diklat tester. Buat pengurus aja.” Jawab salah seorang teteh. 
Aku pun kecewa. Ternyata kegiatan tersebut adalah persiapan bagi mereka yang akan mengetes kemampuan membaca Alquran mahasiswa baru yang mengontrak mata kuliah PAI. Agar kedatanganku di tempat tersebut tidak sia-sia, maka aku pun memberanikan diri kembali untuk meminta teteh tersebut untuk mengetes kemampuan membaca Alquran ku. Setelah beberapa ayat ku baca, ternyata hasilnya TD. Bisa saja TT namun sedikit lagi. Seketika aku pun terkejut dan merasakan kekecewaan. Pikirku, aku telah belajar tahsin selama tiga tahun, lalu apa efek atau hasilnya?
Setelah itu, aku pun berkenalan dengan teteh tersebut. Nama beliau akrab disapa Mba Yus dan Teh Fina yang ternyata kakak kelasku di Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI). Kemudian, Teh Fina pun mengajakku untuk bergabung dengan BAQI. Lalu, jawabanku apa? Hanya senyum-senyum saja. Itu pun senyum yang tidak menjanjikan dan tidak ada harapan. Ya, lagi-lagi karena BAQI bukan organisasi yang aku impikan.
***
Sebuah Keputusan
_________________
Akhirnya, aku putuskan juga untuk mendaftarkan diri di UKM BAQI UPI. Dan tahukah kamu? Saat interview tiba. Aku diwawancarai oleh Teh Eca. Pertanyaan umum yang beliau tanyakan,  
“Apa motivasi untuk ikut BAQI?” 
Aku jawab, “Karena ingin lulus tes BAQI.” Ya, itulah motivasi awalku untuk memasuki UKM tersebut. Dan alhamdulillah, motivasi itu pun tercapai. Saat tes baca Quran, alhamdulillah hasilnya TM. Aku pun sempat tak percaya, namun aku yakin ini karena usaha yang telah aku tempuh pula. Setelah aku mendaftarkan diri di BAQI, lalu aku pun mengikuti Pembinaan Mahasiswa Qurani (PMQ) 3 di Cikole. Dan tak lupa, seminggu sebelum pengetesan dengan penuh semangat dan antusias aku pun melakukan ritual yang takkan pernah terlupa, yakni talaqqi. Yakni menyimakkan bacaan Alquran kepada yang lebih berilmu agar dikoreksi atau diperbaiki. Baik itu kepada teman sekelasku yang ikut BAQI juga yakni Teh Ica, maupun teteh-teteh pengurus BAQI seperti Teh Dini, Teh Eca, dan teteh lainnya. Sehingga saat pengetesan pun aku tidak merasakan gugup sama sekali, semua terasa seperti talaqqi biasa saja. Alhamdulillah.
*** 

Kini dan Nanti
_____________
Setelah puas dengan hasil tes tersebut, aku pun mengikuti Bimbingan Tahfidz Quran (BTQ) dari Badan Semi Otonom Keluarga Quran (BSO KQ) UKM BAQI (sekarang sudah berganti nama jadi Departemen Keluarga Quran). Dalam program ini kami ditargetkan untuk menyelesaikan hafalan juz 30 hingga pada akhirnya nanti kami akan melaksanakan Wisuda Hafalan Quran (WHQ) Juz 30. Namun, saat hari terakhir ujian tasmi, aku belum mampu menghafal beberapa ayat terakhir dari juz 30 sehingga aku belum berkesempatan untuk mengikuti WHQ.
Memasuki masa pendaftaran pengurus BAQI periode 2014, aku memilih BSO KQ di pilihan pertama dan Kestari di pilihan kedua. Alasanku memilih BSO KQ karena sebagai mahasiswa IPAI, aku harus menghafal minimal empat juz selama empat tahun, maka kuharapkan dengan masuknya aku ke BSO KQ, dapat memudahkanku dalam menambaha hafalan. Sedangkan, alasanku memilih kesekretariatan (kestari) karena dibeberapa organisasi dan kegiatan seringkali aku ditempatkan di posisi ini, mungkin inilah minat dan bakatku. 
Selama satu periode kepengurusan tersebut aku diamanahi di kestari. Walaupun ini tidak sesuai dengan harapanku yang pertama, namun tak mengapa. Karena ternyata melalui jalan inilah aku semakin mengenal-Nya melalui surat cinta-Nya.
Semenjak itu, aku pun semakin aktif dan berantusias untuk mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan BAQI. Baik itu di dalam kampus maupun luar kampus. Karena semua kegiatan tersebut takkan pernah terlepas dari Alquran. Dari mulai rapat yang selalu diawali dengan membaca Alquran bersama atau pun tasmi, lalu kegiatan kajian tafsir, sekolah bahasa Arab, sekolah tahsin, pengetesan baca Quran, bimbingan baca Quran dan tahfidz, murakaz, dan sederet kegiatan lainnya selalu berupaya untuk mendekatkan kita dengan Alquran. Walau pun sebenarnya aku ini termasuk orang yang “nakal” dalam artian seringkali melampaui peraturan. Tilawah yang belum memenuhi target, hafalan yang belum bertambah, dan kegalauan terhadap interaksi dengan Alquran lainnya. Namun entah mengapa, walau demikian aku masih betah berlama-lama dengan mereka, para generasi qurani. 

Semenjak bertemu dengan mereka, kini, halaqah-halaqah Alquran lebih aku sukai dibandingkan dengan hingar bingar yang kurang jelas. Nasehat-nasehat keagamaan lebih aku sukai dibandingkan dengan pembicaraan yang tidak bermanfaat. Bahkan, aku yang dahulu sangat menyukai musik pun walau nasyid, kini cukup mengurangi hal tersebut. Aku bukanlah orang terbaik diantara mereka, namun semoga dengan keberadaanku bersama mereka, aku bisa menjadi baik. Mengingat pula, bahwa di akhirat nanti kita akan dipertemukan kembali dengan orang-orang yang kita cintai. Semoga kecintaanku pada mereka yang dekat dengan Alquran, dapat menjadikanku manusia yang lebih baik dan menjadi salah seorang generasi Qurani sejati. Aamiin :)

Author : Hikkari Az-Zahra
Editor : Huriyatul Jannah

*Catatan : Tulisan ini diterbitkan dalam rangka nostalgia sekaligus testimoni untuk pembaca semua. disajikan dalam bahasa pengalaman pribadi, curhatan ringan agar mudah dipahami. Maafkan apabila ada penyebutan nama yang terlibat dan tidak izin terlebih dahulu. Semoga bermanfaat. Ambil hikmahnya ya :-)
Load disqus comments

0 komentar